Kehidupan dan Pendidikan di Dalam Metaverse

gambar 06b

"Metaverse", akhir-akhir ini kita sering mendengar kata ini dalam percakapan atau membaca kata ini dalam artikel-artikel media, apa sih arti yang sebenarnya? Metaverse adalah platform 3-dimensi yang ditujukan untuk sosial. Alih-alih games 3D yang lain, metaverse digunakan sebagai media sosial oleh penggunanya.

Dalam artikel ini saya tidak akan berbicara tentang metaverse dalam kaitannya dengan crypto atau NFT. Sudah ada banyak artikel tentang itu di berbagai media. Saya akan berbicara dari sudut pandang saya sebagai pemakai aktif metaverse sejak 12 tahun silam dan dunia pendidikan.

Sebagai media sosial, pengguna metaverse yang diwakili oleh para avatar bersosialisasi, bergaul, bahkan menjalin hubungan romantika. Mereka juga bermain peran, ada yang membentuk keluarga lengkap: ayah, ibu, dan anak bahkan nenek-kakek. Hebatnya, semua itu diatur dalam sistem adopsi yang sah ala dunia metaverse.

Namun lebih dari itu, metaverse bisa digunakan pula untuk berbisnis karena memiliki sistem keuangan sendiri di dalamnya. Uang di metaverse bisa disalurkan menjadi uang di dunia nyata.

Di sini saya tidak hendak berbicara tentang crypto, namun benar-benar sistem perdagangan barang dan jasa di dalam metaverse. Barang yang dijual meliputi banyak hal yang mendukung kehidupan di dalam metaverse, seperti baju avatar, avatar itu sendiri, rumah, furniture, barang seni, script untuk memprogram benda-benda di dalam metaverse, dan banyak lagi yang lain. Untuk jasa, banyak orang menjadi pengajar software Blender, Photoshop, script, fotografi, dan lain-lain yang akan mendapat uang tips seikhlasnya.

Sebagai penjelajah dunia metaverse sejak tahun 2010, saya pernah menjalani bisnis dengan cara berjualan baju avatar, karya seni, menjadi pengajar fotografi dan menjadi penulis sebuah media metaverse. Walaupun hasil keuangannya masih belum bisa menghidupi dunia nyata, tapi sudah bisa saya gunakan untuk membayar sewa tanah di metaverse.

Mengapa saya merasa perlu sewa tanah? Karena dengan memiliki tanah saya bisa membuat berbagai barang tanpa merusak atau mengganggu properti orang lain, dan saya bisa melakukan transfer file-file 3D yang saya buat di dunia nyata untuk masuk ke dunia metaverse ini dengan leluasa. Selain itu, dengan menyewa lahan saya bisa mendengarkan streaming radio pilihan sendiri.

Waktu itu saya memilih untuk tinggal di metaverse yang namanya Second Life, karena ada banyak teman dunia nyata yang juga memilih metaverse ini untuk bermain. Sewa lahan kecil ukuran 2048x2048 m2 di Second Life memerlukan biaya sekitar Rp. 150.000 hingga Rp. 250.000 per bulan. Jadi bisa dilihat berapa penghasilan saya dari berbisnis di metaverse ini.

Yang saya suka dari metaverse sebenarnya bukan hanya kemungkinan untuk berbisnis, karena bisnis saya waktu itu memang sekedarnya saja, tidak terlalu maju juga, sehingga jika diperhitungkan untung-ruginya, sebenarnya banyak ruginya jika dilihat dari segi waktu.

Untuk membuat baju avatar misalnya, dibutuhkan waktu untuk mendesain, menerapkannya menjadi object 3D yang membutuhkan banyak waktu.

Saya sangat menikmati kemungkinan berkolaborasi dengan lebih banyak expert di seluruh dunia, yaitu mereka yang mendedikasikan waktu banyak untuk bidang yang mereka geluti. Pendidik, designer, entertainer, seniman, mereka adalah profesional yang mengedepankan etika dalam bergaul walaupun hanya melalui metaverse.

Selain itu juga kemungkinan pemaparan karya seni saya di dunia internasional. Di metaverse, pemaparannya jelas berbeda jika dibandingkan di website biasa, lebih menyenangkan dan lebih nyata sesuai jika diaplikasikan ke benda-benda nyata.

Misalnya begini, pada pameran seni di website biasa kita hanya melihat karya seni sebagai satu file foto saja, sedangkan jika di metaverse, karya seni yang saya buat itu sudah berpigura dan ditancapkan pada dinding rumah atau galeri seni sehingga orang akan langsung melihat pengaplikasian karya seni saya itu di obyek-obyek yang sebenarnya.

Lalu demi efisiensi biaya, terutama karena merosotnya perekonomian akibat pandemi covid ini, saya memutuskan untuk tidak lagi bergelut dengan sewa-menyewa lahan di Second Life.

Walaupun masih beraktivitas di sana, namun saya memindahkan pusat aktivitas saya ke OSGrid dengan menggunakan server saya sendiri. Sehingga saat ini saya memiliki tiga region besar di OSGrid.

Region-region ini saya jadikan area untuk menghidupkan dongeng-dongeng yang saya buat di dunia nyata, pengunjung bisa membaca dongeng sambil menjalankan avatarnya di alam yang seperti isi dongeng tersebut, menarik kan? Dunia ini saya beri nama Imagiland.

Inilah sekilas tentang sepak terjang saya di dunia metaverse. Lalu, apakah saya harus memberi makan avatar saya? Tidak, avatar di metaverse berbeda dengan avatar games semacam The Sims dimana avatarnya harus diberi makan, jika tidak maka avatarnya akan mati. Avatar di metaverse dibiarkan saja bertahun-tahun tidak akan berubah bentuk.

Bagaimana manfaat metaverse untuk pendidikan?

Dari segala penyebutan “metaverse” yang saat ini menjadi trend karena NFT, ternyata ada juga manfaat metaverse ini untuk pendidikan. Pengembangan dunia metaverse untuk pendidikan sudah banyak dilakukan di berbagai negara, untuk berbagai keperluan juga.

Selain memanfaatkan pengalaman belajar yang lebih imersif, juga banyak dimanfaatkan untuk melakukan penelitian perilaku belajar, meeting dengan rekan-rekan pengajar seluruh dunia, bahkan pameran dan konferensi pendidikan seperti yang dilakukan VWBPE (Virtual Worlds Best Pratices in Education).

Saat ini di Indonesia lahir sekolah metaverse Suluh Bangsa Mulia. Sekolah ini ternyata memanfaatkan pengalaman user yang mengakses metaverse untuk pengalaman pendidikan yang lebih imersif sehingga anak bisa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik dan menyenangkan.

Dan ternyata, inilah sekolah satu-satunya di dunia yang memanfaatkan metaverse untuk menyampaikan seluruh proses pendidikan pada anak, tidak setengah-setengah. Jika Anda tertarik silakan akses website-nya: www.suluhbangsamulia.com ada nomor kontak atau email yang bisa Anda hubungi di sana.

Dalam opini saya, metaverse di dunia ini tidak ada yang sesuai untuk anak-anak, walaupun ada yang melanggar dengan membiarkan anak-anak masuk ke dalamnya. Hanya Suluh Bangsa Mulia satu-satunya metaverse yang aman untuk anak-anak.

Bullying dan pelecehan verbal dan grafik itu banyak didapat oleh pengguna metaverse karena begitu kompleksnya pengguna metaverse di seluruh dunia ini dengan karakter mereka masing-masing.

Oleh karena itu, jika Anda ingin membuat anak merasakan pengalaman berada di metaverse dengan aman, silakan menghubungi Suluh Bangsa Mulia, sebagai sekolah para coach di dalamnya menjunjung nilai pergaulan yang aman.

Kehidupan di alam metaverse adalah kehidupan yang akan banyak dijalani oleh anak-anak Anda dimasa depan, bahkan Anda sendiri, itu sebabnya menurut saya sebaiknya kita membuka pikiran terhadap hal baru (tapi sudah lama) ini dan menjadi pendamping yang baik bagi anak-anak sehingga bisa mengarahkan anak pada yang baik dan benar.

Tanpa mengenalnya, Anda tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah hal yang buruk atau hal yang baik. Tresno jalaran soko kulino, itulah pepatah jawa yang artinya suka karena terbiasa, suka karena sudah mengenal.